Isu-isu Kontemporer Akuntansi dan Keuangan Syariah

4 July 2018

Akuntansi syariah merupakan salah satu bidang kajian dalam lingkup Ekonomi Islam yang masih terus berkembang. Oleh karena itu, pendalaman dan pengembangan kajian tersebut harus selalu dilakukan, khususnya oleh kalangan akademisi.

Dilatarbelakangi hal tersebut, Program Studi Akuntansi Syariah menggelar sebuah Focus Group Discussion (FGD) dengan mengangkat tema “Isu-isu Kontemporer Akuntansi dan Keuangan Syariah: Upaya Peningkatan Publikasi Ilmiah Bagi Dosen dan Mahasiswa” pada 4 Juli 2018. Diskusi yang diselenggarakan di gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam ini menghadirkan Kepala Pusat Studi Ekonomi Islam Universitas Sebelas Maret, Dr. Falikhatun, S.E., M.Si., C.A., S.A.S. sebagai narasumber.

Sebagai pendahuluan, narasumber menyampaikan isu-isu kontemporer di bidang akuntansi syariah. Dalam hal ini, ada banyak isu akuntansi yang masih sangat terbuka untuk dikembangkan, diantaranya adalah Islamic corporate governance, Islamic cost of capital, Islamic corporate social responsibility, Islamic capital structure, Islamic earning management, Islamic corporate disclosure, dan standard in Islamic accounting. Kesemua isu tersebut masih membutuhkan berbagai sentuhan kajian Ekonomi Islam, dan civitas akademika di PTKIN (termasuk diantaranya FEBI IAIN Surakarta) sangat diharapkan kontribusinya. Menurut narasumber, konstruksi konsep dan teori dalam kajian akuntansi syariah yang baru dapat dibentuk, asalkan terdapat dasar-dasar teori yang menguatkannya. Civitas akademika di PTKIN dianggap sangat potensial, karena topik syariah dan ekonomi Islam telah menjadi bahan pembelajaran dan penelitian yang seringkali dikaji.

Selain itu, isu-isu kontemporer dalam bidang keuangan syariah juga tidak terlewatkan menjadi topik diskusi. Pembicaraan tentang akses finansial bagi UMKM, instrumen keuangan Islam, financial technology, dan kewirausahaan turut dibahas dalam diskusi. Dan di akhir pemaparan materi, narasumber menyampaikan topik tentang pendekatan yang dapat digunakan untuk melakukan riset dan keuangan syariah. Ada beberapa pendekatan dan paradigma yang dapat dipilih oleh para peneliti, sebagaimana disampaikan oleh Sarantakos (1998), yaitu paradigma positivis, paradigma interpretif, dan paradigma critical.

Para dosen dan mahasiswa tampak antusias selama sesi pemaparan materi maupun diskusi. Diharapkan diskusi ini mampu menjadi ajang refreshment akademik bagi pengembangan keilmuan dan penelitian para dosen dan mahasiswa, khususnya di bidang akuntansi dan keuangan syariah. (mr)