Saatnya bergeser dari Paradigma Menabung Menjadi Berinvestasi

12 August 2019

Konsep menyisihkan sejumlah uang untuk disimpan demi memenuhi suatu kebutuhan atau keperluan mendadak tertentu sudah tidak asing lagi. Dulu, orang kerap menabung di celengan, di bawah bantal, ataupun di lemari, hingga kini hampir semua orang sudah menabung di bank. Tapi, sadarkah anda, bunga yang kita dapatkan dengan menabung pada lembaga keuangan tidak berbanding lurus dengan inflasi yang terjadi setiap tahunnya, sehingga jika dibandingkan dengan kenaikan harga barang dan jasa, uang yang kita tabung di bank sebenarnya justru mengalami penurunan nilai.

Di sisi lain, berkaitan dengan resikonya, menabung relatif lebih aman bila dibandingkan dengan investasi. Menabung biasanya untuk tujuan jangka pendek dan menjadi tempat untuk dana darurat karena memiliki likuiditas  yang tinggi. Pada umumnya menabung memiliki sifat yang fleksibel, jadi akses penggunaannya mudah, sebaliknya investasi memiliki sifat yang tidak fleksibel karena memiliki periode yang telah ditentukan sehingga lebih sulit untuk menjangkau keadaan yang sifatnya darurat dan segera. Idealnya, dalam mengukur keuangan adalah kita memiliki tabungan yang dijadikan sebagai dana darurat dan investasi sebagai tempat untuk mengembangkan yang yang dapat memenuhi kebutuhan atau tujuan keuangan dimasa depan. Namun yang perlu diketahui untuk mencapai tujuan finansial jangka menengah dan panjang, berinvestasi jauh lebih menguntungkan.

Secara umum, investasi dapat diartikan sebagai sebuah upaya, baik dalam bentuk materi, tenaga atau waktu yang dilakukan saat ini, untuk mendapatkan keuntungan di masa yang akan dating. Berbicara mengenai konsep investasi dalam bentuk materi, nilai yang kita investasikan seiring dengan berjalannya waktu akan bertumbuh melebihi modal awalnya jika dilakukan secara bijak. Sehingga investasi berpotensi memberikan keuntungan yang lebih besar dibanding dengan tabungan konvensional.

Perkembangan investasi di Indonesia menunjukan keadaan yang menggembirakan Pada 2015 yang merupakan tahun pertama Jokowi secara penuh memerintah, realisasi investasi naik 17,8 persen menjadi Rp. 545,5 triliun. Angka ini bahkan melebihi target sebesar Rp. 519,5 triliun. 
Pada 2016, capaian investasi tumbuh sedikit melambat sebesar 12,4 persen menjadi Rp. 612,8 triliun. Perlambatan terutama terjadi pada investasi asing yang hanya tumbuh 8,4 persen menjadi Rp. 365,9 triliun. Lalu pada 2017, realisasi kembali tumbuh lebih baik sebesar 13,1 persen menjadi Rp. 692,8 triliun. Realisasi tersebut tercatat kembali melampaui target yang dipatok pemerintah sebesar Rp. 678,7 triliun.
Namun pada sepanjang tahun lalu, realisasi pertumbuhan investasi mendadak anjlok hanya sebesar 4,1 persen. Total investasi yang tercatat mencapai Rp721,3 triliun (www.cnnindonesia.com, 2019). Investasi tersebut dilakukan baik oleh pemerintah maupun masyarakat/swasta.

Di Negara berkembang dengan tingkat penduduk yang besar, umumnya meniliki rasio investasi terhadap jumlah penduduk, relative kecil. Sehingga Negara kerap mengundang investasi asing untuk masuk kedalam negaranya, termasuk juga Indonesia. Meski investasi asing ini tidak selalu memberikan keuntungan terhadap Negara, terutama dalam jangka panjang.

Proporsi investasi fisik jangka panjang yang masuk atau FDI inflow terhadap pembentukan PDB Nasional belum signifikan karena mayoritas investasi fisik yang masuk Indonesia hanya tertarik pada pasar domestik yang besar, dan sumber daya alam potensial. Investasi fisik jangka panjang yang masuk dari luar negeri ke Indonesia umumnya bukan karena alasan ingin menjadikan Indonesia sebagai foundation production. Tujuan akhir ini sulit dicapai karena membutuhkan kualitas infrastruktur dan SDM dengan keahlian tinggi.

Alasan terpenting mendorong investasi adalah untuk mengakselerasi perkembangan ekonomi. Semakin banyak Negara yang sedang mendorong investasi asing dengan panduan tertentu yang diarahkan pada tujuan ekonomi. Korporasi/ perusahaan multinasional dapat diharapkan menciptakan lapangan pekerjaan, pengalihan teknologi, membangkitkan penjualan ekspor, merangsang pertumbuhan dan perkembangan industry lokal, menjaga persediaan devisa, atau memenuhisemua harapan ini sebagai syarat konsesi pasar.

Salah satu tren instrument investasi terkini yang praktis dan bisa dicoba oleh kita sebagai warga Negara Indonesia adalah Surat Hutang Negara. Menariknya, instrument investasi ini bisa dibeli secara online (e-SBN). Sebenarnya ada beberapa alasan mengapa kita sebagai warga Negara Indonesia berinvestasi di SBN, yaitu: satuan pembelian cukup murah yaitu mulai dari angka 1 juta sampai maksimal 5 miliyar, kita sudah bisa menabung sambil belajar berinvestasi diberbagai instrument investasi pada SBN, seperti Fund Connection Ritel (SBR), Sukuk Ritel (SR), Sukuk Tabungan (ST), dan Obligasi Ritel Indonesia (ORI).

Pada pembahasan ini saya hanya fokus pada Sukuk Negara Ritel, dimana Sukuk Ritel Negara diharapkan menjadi instrument bagi semua lapisan masyarakat karena dengan nominal 5 juta masyarakat sudah dapat berinvestasi pada instrument ini dengan batas maksimal 5 miliyar. Penerbitan instrument ini sebenarnya juga merupakan edukasi kepada masyarakat agar melakukan transformasi dari masyarakat yang berorientasi menabung menajdi masyarakat berorientasi investasi. Seiring dengan kesadaran masyarakat muslim Indonesia untuk berinvestasi sesuai dengan kaidah syariah, maka Sukuk Ritel Negara dapat dijadikan pilihan utama berinvestasi karena instrument ini telah mendapatkan fatwa dan opini syariah dari Dewan Syariah Nasional MUI. Namun “stempel halal” yang diberikan oleh lembaga tersebut bukan menjadikan sukuk ritel Negara menjadi isntrumen yang ekslusif tetapi instrument ini tetap dapat dimiliki oleh seluruh masyarakat Indonesia. Bahkan instrument ini diharapkan menjadi instrument keuangan inklusif yang bisa dimiliki oleh masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.

Sebagai instrument yang diterbitkan oleh pemerintah, maka sukuk ritel Negara dapat dikategorikan sebagai instrument investasi bebas resiko. Hal ini dikarenakan seluruh nilai investasi masyarakat baik pembayaran saat jatuh tempo dan bagi hasilnya dijamin oleh Pemerintah melalui Undang-Undang No. 19 tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara dan Undang-Undang APBN yang diterbitkan setiap tahun. Seiring dengan meningkatnya kesadaran berinvestasi, Sukuk Ritel Negara tentu menjadi instrument investasi yang banyak ditunggu masyarakat. Sebagai indikasi, Sukuk Ritel Negara diterbitkan oleh Pemerintah di pasar perdana pada sekitar bulan februari atau maret setiap tahun.

Dengan membeli Sukuk Ritel Negara, maka kita sebagai warga Negara turut mendukung dalam kesukesan pembangunan Negara Indonesia. Dukungan pada pembangunan Negara akan memberikan multiplier effectpada perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Dengan begitu maka sudah saatnya kita bergeser dari kebiasaan menabung kita yang akan menurunkan nilai dari tabungan kita dengan menginvestasikan dana kita salah satunya pada Sukuk Ritel Indonesia untuk bersama-sama menuju Indonesia Maju.

 

Oleh: Zakky Fahma Auliya

Top