Surakarta –  HMJ Perbankan Syariah mengadakan kunjungan studi ke Otoritas Jasa Keuangan Surakarta dengan tema Outlook Perbankan Syariah 2017 di Indonesia. Kegiatan ini dilaksanakan tanggal 27 April 2017, dalam rangka realisasi program kerja dari dua unit pada HMJ Perbankan Syariah, yaitu Unit Kemahasiswaan dan Unit Keorganisasian. Disamping untuk realisasi program kerja, tujuan dilaksanakan OC to OJK ini juga untuk mengetahui tentang kiprah perbankan syariah pada perekonomian Indonesia, melalui sumber yang terpercaya dan terbaru. Dengan tema yang menarik ini, kegiatan OC to OJK ini dibuka untuk umum, dengan peserta yang bukan hanya berasal dari IAIN Surakarta saja, tapi juga dari perguruan tinggi lain, seperti STIE AAS dan UMS.

Kegiatan diskusi berlangsung di kantor OJK Surakarta yang berlokasi di Jl. Veteran No.299, Tipes, Serengan, Kota Surakarta. Diskusi dipimpin oleh Friska Magdalena (Staf Sub Bagian Pengawasan Edukasi Perlindungan Konsumen) selaku moderator, dan Nofa Hermawati (Kepala Sub Bagian Perizinan, Informasi, dan Dokumentasi) selaku pembicara.

Dalam diskusi ini, disampaikan bahwa dalam perkembangan keuangan syariah secara global berdasarkan aset yang dimiliki, Indonesia berada di posisi ke-9 dengan jumlah aset 65,5 miliar (menurut IFSB Financial Stability Report 2016). Untuk Indonesia sendiri, Nanggroe Aceh Darussalam adalah provinsi dengan market share perbankan syariah tertinggi di Indonesia, yaitu sebesar 50,21%. Hal ini dikarenakan berubahnya BPD Aceh menjadi Bank Aceh Syariah pada September 2016, sehingga mendorong pertumbuhan aset perbankan syariah di Aceh yang relatif tinggi, yaitu sebesar 326,61%.

Secara lebih rinci, perkembangan perbankan syariah mencakup BUS, UUS, dan BPRS mengalami peningkatan yang positif, jika dilihat dari peningkatan signifikan dari aset, pembiayaan, dan DPK dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Jumlah rekening juga meningkat secara signifikan walaupun jumlah kantor menurun. Dari segi permodalan juga cukup baik dengan peningkatan rasio CAR sebesar 1,04% menjadi 16,99%, dan likuiditas BUS yang tergolong tinggi juga. Dilihat dari segi profitabilitas dan efisiensi, perbankan syariah juga semakin membaik, meski masih tergolong rendah.

Kegiatan ini berjalan dengan sukses dan lancar, serta mencapai target yang diingingkan oleh panitia. Kegiatan semacam ini diharapkan mampu memberikan pengetahuan lebih mengenai OJK dan peranannya dalam pengaturan dan pengawasan keuangan syariah di Indonesia bagi para peserta. (liya)