FEBI News| Kalangan UMKM harus diprioritaskan setelah masa pandemi covid-19 ini atau saat penerapan normal baru (new normal), perihal ini untuk mendesak pemerintah memprioritaskan pemulihan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Salah satu caranya dengan dengan memberikan kemudahan permodalan. Faktor utama penghambat UMKM tumbuh berkembang adalah masih sulitnya akses pada permodalan, masalah lainnya yang muncul dan kerap dikeluhkan selama 20 tahun pada sektor UMKM adalah sulitnya mencari kredit modal kerja ataupun kredit investasi.

Sekitar 60 persen ekonomi Indonesia yang menciptakan 97 persen lapangan kerja terkendala inklusif keuangan, masalah tersebut bisa teratasi dengan adanya teknologi FinTech karena dinilai bisa menjadi solusi pembiayaan dan permodalan. Keberadaan teknologi bisa dihadirkan FinTech atau jasa keuangan berbasis teknologi, mulai dari peer to peer lending hingga produk-produk lain yang bisa menghadirkan solusi permodalan.

Salah satu platform digital yang bergerak di bidang keuangan dengan pendekatan Islamic social finance yang dinamakan Bank Infaq. Misi dari Bank Infaq ini adalah mengelola infaq secara profesional, dan hasilnya digunakan untuk membantu masyarakat yang ingin mengembangkan usahanya dan mencegah dari pinjaman abal-abal dan tidak fair, dalam pengembangan industri keuangan secara digital harus dilakukan dengan hati-hati, harus didukung governance yang kuat dan tata kelola yang kuat.

Karena itu dengan pendekatan digital, financial conclusion akan meningkat terlebih di masa pandemic Covid-19 ini. Sudah banyak teladan suksesnya, seperti Jogokaryan dan grameen Bank. Bank Infaq membantu pelaku usaha mikro untuk mengembangkan usaha mereka tanpa khawatir terjerat cekikan bunga rentenir. Bank Infaq juga membantu mereka terhindar dari rentenir digital yang kini marak. Gerakan Bank Infaq ini berbasis komunitas di perumahan, masjid-Masjid, kelompok masyarakat dan majelis-majelis taklim. Gerakan ini mengelola infaq dengan memanfaatkan teknologi digital.

Di era modern, infaq makin diterima. Apalagi, banyak financial technology (fintech) yang memiliki platform urun dana (crowdfunding) yang pasarnya bisa mencapai Rp 75 triliun. Gerakan Bank Infaq dapat menjadi solusi di tengah sulitnya akses masyarakat, terutama UMKM, ke permodalan. Bank Infaq insya Allah menumbuhkan manfaat nyata serta menciptakan perubahan.

Perihal inilah yang disampaikan Saudara Muh. Alan Nur, S.E., sebagai narasumber dalam pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan di Pondok Takmirul Islam khususnya kepada para jamaah di Ma’had ‘Aly Takmirul Islam Surakarta sesuai protokol kesehatan. Acara diselenggarakan oleh Budi Sukardi, M.S.I selaku Dosen FEBI IAIN Surakarta serta dihadiri oleh para pimpinan dan tenaga pendidik serta memberikan kontribusi untuk mendirikan Bank Infaq di Ma’had ‘Aly Pesantren Takmirul Islam Laweyan Surakarta sebagai terobosan dalam memberikan kemaslahatan ummat secara umum, dan menjadikan masyarakat sekitar lebih berdaya dalam menghadapi kendala modal dan pembiayaan di masa era new normal pasca pandemi Covid19.